Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Wednesday, November 26, 2008

Fluktuatif

oleh Endang Hariyanto Rosidi

Dalam kaca mata agama—Islam—iman digambarkan sebagai sesuatu yang “yazîd wa yanqush” sesuatu yang sifatnya fluktuatif. Pada saat tertentu iman seseorang mengalami kenaikan yang luar biasa, tetapi pada saat yang lain iman itu mengalami penurunan yang luar biasa pula. Bak handphone yang kadang kala mengalami drop dan harus dilakukan pengisian kembali recharge.

Analogi ini mungkin kurang tepat, sebab sejatinya ketika seseorang secara konsisten dan kontinyu mendekatkan diri kepada Sang Khalik maka secara otomatis keyakinannya kepada Tuhan semakin baik—terus menerus mengalami kenaikan—. Kedekatan seseorang kepada Tuhan, membuat ia menjadi semakin tunduk dan patuh kepada ajaran-ajaran-Nya. Orang yang semacam ini akan dengan senang hati menunda kesenangan sesaat untuk kebahagiaan abadi yang akan didapatkannya kelak. Ketundukan dan ketaatannya bukan lagi karena rasa takutnya kepada Tuhan, tetapi karena munculnya kesadaran bahwa eksistensinya sangat tergantung kepada Tuhan. Oleh karenanya dengan segala kerelaan hati dia mengerjakan apa yang telah diperintahkan Tuhan dan menjauhkan apa yang menjadi larangan-Nya.

Seorang Sufi yang bernama Rabiah Al-Adawiyah, pernah menyatakan, bahwa ketundukan dan kepatuhannya kepada Tuhan bukan karena rasa takutnya kepada siksa (neraka) dan berharap pahala (surga) dari Tuhan, tetapi karena cintanya kepada Sang Maha Kasih, Allah Swt. Karena itulah ia rela melakakukan apa pun demi mendapatkan cinta-Nya.

Rasa cinta inilah yang seharusnya tumbuh dalam diri kita sebagai seorang hamba, sehingga segala sesuatunya didasarkan karena Tuhan. Dengan demikian iman yang bersemayam dalam diri kita akan terus terjaga secara konsisten dan kontinyu.

Sebagai orang awam, seringkali keyakinan kita kepada Tuhan tumbuh begitu subur manakala kita mendapatkan pertolongan dari-Nya atau sedang dalam kondisi lapang dan bahagia. Sementara ketika cobaan (kesulitan) menghampiri kita, dan cobaan itu berlangsung agak sedikit lama, keyakinan kita kepada Tuhan seolah berkurang dan menurun. Bahkan terbersit perasaan ternyata Tuhan meninggalkan kita. Padahal Tuhan tak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Secara tegas dalam salah satu hadits kudsi Nabi Saw. pernah bersabda: “Bahwa Aku (Allah) tergantung pada sangkaan (persepsi) hamba-Ku, jika mereka baik maka Aku pun akan sangat baik kepadanya, jika mereka merasa dekat maka Aku pun akan lebih dekat dengannya. Jika seorang hamba mendekati Aku satu jengkal maka Aku mendekatinya satu hasta, jika seorang hamba mendekatiKu dengan cara berjalan, maka Aku mendekatinya dengan cara berlari.”

Begitu dekatnya Tuhan kepada hamba-banya-Nya yang senantiasa mendekati-Nya. Dalam salah satu ayat Allah berfirman: ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, (maka jawablah) sesungguhnya Aku dekat, Aku akan menjawab (mengabulkan) permohonan hamba-Ku jika mereka memintanya. Karena itu, hendaklah mereka memperkenankan (segala perintah-Ku) dan mengimani Aku, supaya mereka mendapatkan petunjuk.” QS Al-Baqarah [2]:186

Begitulah Tuhan, Zat yang Maha Kasih dan tak pernah pilih kasih, Dia akan dekat dengan siapa pun yang mendekati-Nya. Bukan Tuhan yang menjauhi kita, tetapi kita yang menjauhi Tuhan. Bermohonlah kepada-Nya, sebab Dia akan memperkenankan permohonan, doa dan pinta kita.

Saya teringat sepotong syair lagu yang dinyanikan Bimbo—band legendaris yang mengusung lagu-lagu religi— ”aku dekat Engkau (Tuhan) dekat, aku jauh Engkau jauh.”

Pada saat seperti inilah (kondisi dimana seseorang merasa terpuruk- iman menurun) seseorang membutuhkan sebuah suasana rohani yang dapat meningkatkan keimanannya, mengerjakan amalan-amalan yang dapat membuat kita menjadi dekat dengan-Nya. Sebut saja salah satunya melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat religi.

Oleh karenanya mari mulai saat ini kita membangun hubungan baik dengan Allah Swt (habluminallah). Secara sadar dan konsisten kita lakukan, agar kasih-Nya senantiasa menyertai kita kemanapun dan dimana pun kita berada, susah senang, suka dan duka. Mulailah saat ini juga. Semoga. []
Wa Allahu a’lam bi al-shawab.

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda