Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Monday, November 10, 2008

Memaknai Jihad

oleh Endang Hariyanto Rosidi
Tulisan ini merupakan refleksi pemikiran penulis yang sangat mungkin keliru.
Dari asal katanya jihâd merupakan bentuk mashdar dari akar dari kata jahada, yang artinya bersungguh-sungguh, sesuatu yang dilaksanakan secara bersungguh-sungguh, sekuat tenaga, seoptimal mungkin, sehingga menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Hal bisa ditemukan dalam QS Al-Maidah [5]: 53, QS Al-An’am [6]:109, An-Nahl [16]:38, An-Nur [24]:53 dan QS Fathir [35]:42.

Sedangkan kata Jihâd artinya berjuang, jihâd fi sabilillah misalnya diartikan sebagai berjuang di jalan Allah, bukan berperang di jalan Allah. Hal dapat ditemukan dalam QS At-Taubah [9]: 24, QS Al-hajj [22]:78, QS Al-Mumtahanah [60]:1. Sementara dalam QS Al-Furqan [25]: 52, Allah menjelaskan “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar.” Ibn Abbas dalam Tafsir Al-Qurtubi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah berjihadlah dengan Islam. Surat ini termasuk surat makkiyyah, dan surat makkiyyah diturunkan sebelum perintah berperang. Tidak bermaksud mempersoalkan tafsir ayat ini —karena saya bukanlah ahli tafsir—, saya hanya ingin melihat makna jihad dalam perspektif lain.

Seperti diketahui bahwa nabi Muhammad Saw diutus ke alam dunia ini sebagai pembawa risalah kebenaran, yang salah satu misinya adalah sebagai rahmatan lil’alamin, pembawa kedamaian bagi seluruh alam dan penyempurna akhlak yang mulia.

Dengan demikian tidaklah elok jika misi mulia ini dicemarkan dengan penghancuran dan pembunuhan keji dan sadis. Seperti halnya kasus pengeboman di Kuta – Bali, menurut hemat saya bukanlah jihad.

Jika berdalih bahwa mereka adalah orang-orang non muslim, toh Allah Swt memang secara sengaja menciptakan umat ini beragam, agar saling berlomba dalam kebaikan (lihat QS Al-Baqarah [2]: 148), dan seandainya Allah menghendaki, Allah Mahakuasa untuk menciptakan umat ini menjadi satu umat saja (lihat QS Asy-Syura [42]:8). Karena memang Allah Swt menciptakan umat manusia dengan sangat beragam makanya Dia melarang hamba-hamba-Nya untuk saling mengolok-olok antara satu kaum dengan kaum yang lainnya.

Yang harus dilakukan oleh setiap umat —menurut hemat saya— adalah berupaya semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Memberikan karya terbaik bagi umat manusia, bangsa dan negara, menjalankan praktik keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing dengan tidak saling mengganggu dan menghalang-halangi. Jika salah satu umat merasa tertinggal atau terpinggirkan seharusnya bertanya pada diri sendiri, mengapa seperti ini? Apa yang sudah dikerjakan? Bagaimana perencanaannya, evaluasinya dan follow up-nya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bersifat problem solver. Bukan malah menyalahkan orang lain, mengambil jalan pintas untuk “menyelesaikan” masalah yang akhirnya menimbulkan masalah baru yang lebih berat. Tidak sepantasnyalah umat yang beriman kepada Yang Maha Kasih dan Sayang, berbuat pengrusakan dan berlaku anarkis mengatasnakan diri-Nya.

Oleh karenanya setiap umat hendaklah berkomitmen untuk tidak lagi melempar kesalahan kepada orang lain sementara dirinya sendiri belum tentu benar.

Mari tumbuhkan kebersamaan dalam keindahan dan keindahan dalam kebersamaan. Bukan saling menikam dan menggunting dalam lipatan, memancing di air keruh. Sudah saatnya duduk bersama memikirkan nasib bangsa kearah yang lebih damai dan sejahtera.

Wa Allahu a’lam bi al-shawab.

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda