Oleh Endang Hariyanto Rosidi
Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut dengan Hari Raya Kurban merupakan moment yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. Tidak hanya oleh para hujjaj dan hujjajah, tetapi juga oleh yang lain yang belum berkesempatan beribadah haji. Seperti halnya Idul Fitri, moment Idul Kurban, membawa berkah bagi seluruh lapisan masyarakat, terlebih bagi mereka yang tidak berkecukupan dan dhuafa, tidak hanya kaum muslimin tetapi non muslim sekalipun turut mendapatkan “keuntungan” atas datangnya Hari Raya Idul Kurban.
Hari Raya Kurban membawa berkah bagi siapa saja yang pandai memanfaatkan kesempatan, bagi para peternak, idul kurban merupakan panen raya yang luar biasa sebab mereka bisa menjual hewan ternaknya dengan harga yang tinggi dan jumlah yang banyak. Bagi para pedagang pun demikian, mereka berkesempatan meraup untung yang lebih dari biasanya. Bahkan bagi mereka yang bukan peternak dan bukan pedagang sekalipun, tetapi mereka berkemauan tinggi untuk mendapatkan keuntungan, pintu terbuka lebar. Misalnya saja dengan menjadi penjaga ternak yang dijual, sebab tidak semua pedagang memiliki waktu dan kesediaan untuk menunggui ternak dagangannya. Oleh karenanya idul kurban membawa berkah bagi siapa saja yang dengan tulus mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, bagi siapa saja yang pandai membaca situasi dan bagi siapa saja yang kreatif.
Kurban merupakan perwujudan dari “kedekatan” seorang hamba kepada Sang Khalik, sebab secara kebahasaan kata kurban berasal dari akar kata qa-ra-ba (قرب) yang berarti dekat. Dalam terminologi lain, kedekatan seorang hamba kepada Tuhan dinamakan dengan takwa. Sebab takwa secara esensi adalah sebuah upaya untuk senantiasa menghadirkan Allah dalam kehidupan, dalam setiap aktivitas merasa selalu ada Allah di sisinya, ini berarti bahwa Allah begitu dekat bahkan sangat dekat.
Dalam QS Al-Baqarah [2]:186 Allah Swt menjelaskan tentang kedekatan-Nya kepada hamba-hambaNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Hamba-hamba yang didekati oleh Allah adalah mereka yang memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Kurban merupakan media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ajaran kurban telah ada sejak zaman Nabi Adam Alaihi Salam yang dicontohkan dengan persembahan (kurban) kedua putra beliau. Kemudian hal ini diabadikan dalam firman-Nya QS Al-Maidah [5]:27, “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".
Dengan tegas ayat ini menjelaskan bahwa Allah hanya akan menerima kurban dari hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang tulus dan ikhlas, yang tidak dikontaminasikan dengan ria.
Selanjutnya syariat kurban ini di-waris-kan dalam ajaran Nabiullah Ibrahim Alaihi Salam. Syariat ini merupakan ujian berat bagi Ibrahim, betapa tidak, setelah lama beliau menantikan kehadiran keturunannya, tetapi justru ketika anaknya telah mencapai usia dewasa, Allah malah memerintahkan beliau untuk menyembelihnya, ditambah lagi datangnya syariat ini berdasarkan mimpi. Akan tetapi walaupun demikian karena Ibrahim adalah orang yang sangat takwa kepada Allah maka dengan ikhlas ia pun mengorbankan perasaan cinta kepada anaknya dan rela mengorbankan putra kesayangannya untuk disembelih sebagai perwujudan kedekatan, ketaatan dan keimanannya kepada Allah Swt. Dalam QS Ash-Shaffat [37]:102 Allah Swt berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Akhirnya Ibrahim pun berketetapan hati untuk menyembelih putra tercintanya, dan akhirnya ujian itu dapat dilaluinya dengan sukses dan Ismail pun ditukar dengan seekor domba.
Begitu luar biasanya ketaatan dan keimanan Nabiullah Ibrahim, sehingga ia merasa begitu dekat dengan-Nya. Karena kecintaannya kepada Allah, maka apa pun yang diperintahkan Allah dilaksanakannya dengan penuh kerelaan dan keikhlasan. Hal lain yang dapat dijadikan pelajaran adalah bahwa Ibrahim as, termasuk orang yang sangat demokratis dan lembut. Perintah yang begitu berat didialogkannya terlebih dahulu kepada putranya, sebagai putra yang saleh dan taat kepada Allah dan orang tua, Ismail pun dengan tanpa ragu mempersilakan ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah Swt untuk menyembelihnya. Sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dan patut dicontoh oleh kita semua.
Perintah berkurban selanjutnya disyariatan kepada umat-umat lainnya, termasuk umat Nabi Muhammad Saw. seperti ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya QS Al-Hajj [22]: 34, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”
Semoga pelajaran berharga dan hikmah yang luar biasa dari peristiwa kurban ini dapat dijadikan momentum untuk kita semakin dekat dengan Allah Swt dan berbagi kepada fakir, miskin dan dhuafa. Semoga Allah menerima upaya kita untuk dekat kepada-Nya. Amin.
Wa Allahu a’lam bi al-shawab.
Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut dengan Hari Raya Kurban merupakan moment yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. Tidak hanya oleh para hujjaj dan hujjajah, tetapi juga oleh yang lain yang belum berkesempatan beribadah haji. Seperti halnya Idul Fitri, moment Idul Kurban, membawa berkah bagi seluruh lapisan masyarakat, terlebih bagi mereka yang tidak berkecukupan dan dhuafa, tidak hanya kaum muslimin tetapi non muslim sekalipun turut mendapatkan “keuntungan” atas datangnya Hari Raya Idul Kurban.
Hari Raya Kurban membawa berkah bagi siapa saja yang pandai memanfaatkan kesempatan, bagi para peternak, idul kurban merupakan panen raya yang luar biasa sebab mereka bisa menjual hewan ternaknya dengan harga yang tinggi dan jumlah yang banyak. Bagi para pedagang pun demikian, mereka berkesempatan meraup untung yang lebih dari biasanya. Bahkan bagi mereka yang bukan peternak dan bukan pedagang sekalipun, tetapi mereka berkemauan tinggi untuk mendapatkan keuntungan, pintu terbuka lebar. Misalnya saja dengan menjadi penjaga ternak yang dijual, sebab tidak semua pedagang memiliki waktu dan kesediaan untuk menunggui ternak dagangannya. Oleh karenanya idul kurban membawa berkah bagi siapa saja yang dengan tulus mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, bagi siapa saja yang pandai membaca situasi dan bagi siapa saja yang kreatif.
Kurban merupakan perwujudan dari “kedekatan” seorang hamba kepada Sang Khalik, sebab secara kebahasaan kata kurban berasal dari akar kata qa-ra-ba (قرب) yang berarti dekat. Dalam terminologi lain, kedekatan seorang hamba kepada Tuhan dinamakan dengan takwa. Sebab takwa secara esensi adalah sebuah upaya untuk senantiasa menghadirkan Allah dalam kehidupan, dalam setiap aktivitas merasa selalu ada Allah di sisinya, ini berarti bahwa Allah begitu dekat bahkan sangat dekat.
Dalam QS Al-Baqarah [2]:186 Allah Swt menjelaskan tentang kedekatan-Nya kepada hamba-hambaNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Hamba-hamba yang didekati oleh Allah adalah mereka yang memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Kurban merupakan media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ajaran kurban telah ada sejak zaman Nabi Adam Alaihi Salam yang dicontohkan dengan persembahan (kurban) kedua putra beliau. Kemudian hal ini diabadikan dalam firman-Nya QS Al-Maidah [5]:27, “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".
Dengan tegas ayat ini menjelaskan bahwa Allah hanya akan menerima kurban dari hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang tulus dan ikhlas, yang tidak dikontaminasikan dengan ria.
Selanjutnya syariat kurban ini di-waris-kan dalam ajaran Nabiullah Ibrahim Alaihi Salam. Syariat ini merupakan ujian berat bagi Ibrahim, betapa tidak, setelah lama beliau menantikan kehadiran keturunannya, tetapi justru ketika anaknya telah mencapai usia dewasa, Allah malah memerintahkan beliau untuk menyembelihnya, ditambah lagi datangnya syariat ini berdasarkan mimpi. Akan tetapi walaupun demikian karena Ibrahim adalah orang yang sangat takwa kepada Allah maka dengan ikhlas ia pun mengorbankan perasaan cinta kepada anaknya dan rela mengorbankan putra kesayangannya untuk disembelih sebagai perwujudan kedekatan, ketaatan dan keimanannya kepada Allah Swt. Dalam QS Ash-Shaffat [37]:102 Allah Swt berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Akhirnya Ibrahim pun berketetapan hati untuk menyembelih putra tercintanya, dan akhirnya ujian itu dapat dilaluinya dengan sukses dan Ismail pun ditukar dengan seekor domba.
Begitu luar biasanya ketaatan dan keimanan Nabiullah Ibrahim, sehingga ia merasa begitu dekat dengan-Nya. Karena kecintaannya kepada Allah, maka apa pun yang diperintahkan Allah dilaksanakannya dengan penuh kerelaan dan keikhlasan. Hal lain yang dapat dijadikan pelajaran adalah bahwa Ibrahim as, termasuk orang yang sangat demokratis dan lembut. Perintah yang begitu berat didialogkannya terlebih dahulu kepada putranya, sebagai putra yang saleh dan taat kepada Allah dan orang tua, Ismail pun dengan tanpa ragu mempersilakan ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah Swt untuk menyembelihnya. Sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dan patut dicontoh oleh kita semua.
Perintah berkurban selanjutnya disyariatan kepada umat-umat lainnya, termasuk umat Nabi Muhammad Saw. seperti ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya QS Al-Hajj [22]: 34, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”
Semoga pelajaran berharga dan hikmah yang luar biasa dari peristiwa kurban ini dapat dijadikan momentum untuk kita semakin dekat dengan Allah Swt dan berbagi kepada fakir, miskin dan dhuafa. Semoga Allah menerima upaya kita untuk dekat kepada-Nya. Amin.
Wa Allahu a’lam bi al-shawab.
No comments:
Post a Comment
terima kasih untuk saran dan komentar anda