Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Tuesday, December 11, 2007

Spirit Perjuangan Kaum Hawa

“Kartini”
Sang Inspirator yang Fenomenal
Oleh Citra Lestari Oktaviana
*

“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata "Emansipasi" belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya, satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.”
Sebuah penggalan surat tertanggal 25 Mei 1899, ditulis dengan bahasa Belanda yang tertata baik seperti bahasa seorang terpelajar yang telah mengenyam di kursi sekolahan. Tidak lain penggalan surat tersebut merupakan buah pemikiran Kartini, wanita Jawa asli pribumi, yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda, Estelle Stella Zeehandelaar.

Kartini, dikenal dengan nama Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, kelahiran Jepara, 21 April 1879, ialah seseorang dari golongan priyayi atau bangsawan Jawa. Ia merupakan seorang wanita yang beruntung dibandingkan wanita-wanita lainnya karena dapat merasakan bangku pendidikan walaupun hanya sampai usia 12 tahun. Kartini ialah sosok yang kritis dan cerdas. Ia sangat tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Ketika wanita muda lain pada masanya terkungkung dalam masa pingitan, Kartini justru sibuk belajar dan banyak membaca buku-buku karya penulis dan sastrawan terkenal yang bemutu tinggi. Di waktu wanita-wanita Jawa menjalankan kehidupan dalam kurungan adat yang sangat mengekang mereka, Kartini malah menyuarakan bahwa dirinya ingin bebas, merdeka serta berdiri sendiri.

Seorang wanita bernama Kartini
Lahir sebagai anak kelima dari sebelas bersudara kandung dan tiri di keluarga besar bangsawan Jawa membuat Kartini memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini ialah anak perempuan tertua. Ayahnya ialah Raden Mas Sosroningrat, seorang bupati Jepara, dan ibunya bernama M.A. Ngasirah, anak seorang guru agama di Jepara.

Kartini kecil berkesempatan untuk bersekolah di Europese Lagere School, tempat belajar khusus untuk anak-anak bangsawan dan pejabat. Di sana Kartini belajar bahasa Belanda sampai usia 12 tahun. Setelah itu, Kartini tidak dapat lagi melanjutkan sekolah, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Namun, keinginannya untuk menuntut ilmu sangatlah kuat. Di rumah, ia belajar sendiri dan mulai rajin menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Ia juga banyak membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa. Kartini membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga rutin menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Diantaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

Kartini pun mampu melahap buku-buku berbahasa Belanda karangan Multatuli, berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta, yang pada November 1901, sudah dibacanya dua kali. Lalu, ia membaca De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian, ia tidak melewatkan untuk menyantap karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata) sebelum usianya mencapai kepala dua. Dari situlah ia mulai belajar dan mengetahui kemajuan berpikir para wanita Eropa, kebebasan mereka dalam berpendapat tanpa dikekang oleh adat yang menurut pemikirannya malah menghambat kemajuan wanita Indonesia, serta persamaan status sosial dan derajat kaum wanita di Eropa. Selain itu, Kartini beberapa kali mengirimkan tulisan yang merupakan ungkapan pemikirannya, bukan hanya mengenai emansipasi wanita namun juga tentang masalah sosial umum, dan beberapa kali dimuat di De Hollandsche Lelie, majalah wanita Belanda.

Kartini vs Pemikirannya
Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung daripada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902). Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkanaku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)

Kartini muda yang cemerlang selalu menyampaikan pemikirannya dan keinginannya melalui tulisan, berupa surat-surat yang ia kirimkan kepada temannya di Belanda. Kartini mengutarakan hasratnya yang sangat besar untuk belajar di negeri Belanda. Kemauannya itu didukung penuh oleh para sahabat penanya. Mereka yakin, Kartini yang cerdas ini dapat mengembangkan diri dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di sana. Ide dan cita-citanya ia tuangkan dalam tulisan yaitu Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid, dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Ia juga mengungkapkan untuk menjadi kaum muda yang merdeka. Kurungan adat Jawa membuat para wanita Jawa semakin terbelakang, mereka tidak bisa bebas belajar di sekolah, harus dipingit dan berbagai peraturan yang tidak sesuai dengan jiwa kartini muda. Hal tersebut pun ia tuangkan dalam salah satu suratnya kepada Stella pada tahun 1899. Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai
batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.

Kartini tidak hanya mengkritisi masalah adat namun juga mempertanyakan tentang agamanya,. Ia mempertanyakan mengapa itab suci harus dilafalkan dan dilafalkan tanpa adanya kewajiban untuk dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan. Ia pun mengungkapkan pandangannya mengenai agama yang dijadikan pembenaran untuk berpoligami (beristri lebih dari satu), serta agama yang sering dijadikan alasan manusia untuk berselisih, terpisah dan bermusuhan.
"...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..."

Detik-detik akhir perjalanan Kartini, pelopor emansipasi wanita.
Perjuangan untuk memajukan kaum wanita yang dilakukan Kartini tidak berjalan mulus sesuai harapan. Banyak hal yang merintangi dan menghambat pencapaian cita-cita Kartini yang mulia. Angan-angannya untuk sekolah di Eropa pupus sudah, karena sang ayah tidak mengizinkan Kartini pergi ke Belanda. Sang ayah hanya memperbolehkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi. Rasa kekecewaan dirasakan tidak oleh Kartini saja, sahabat bersuratnya di Belanda pun menyayangkan ketidakpergiannya. Kekecewaan itu tidak berlarut-larut, Kartini tetap berdiri tegap berupaya menyejajarkan wanita-wanita Indonesia dan memperjuangkan hak mereka.

Namun, pada tahun 1903, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, ia menulis bahwa tida berniat lagi untuk mengajar di Betawi karena akan menikah, "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." padahal pintu telah terbuka lebar utuk membuka kesempatan kepada Kartini dan adiknya belajar di Belanda.
Pada akhirnya, menjelang pernikahannya, Kartini menjadi lebih toleran kepada adat Jawa, ia berpikir bahwa pernikahan yang akan ia lakukan akan membawa hikma dan keuntungan tersendiri baginya, yaitu mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para wanita bumiputera kala itu.

Kartini menikah dengan Bupati Rembang, raden Adipati Joyodiningrat yang telah memiliki tiga istri pada tanggal 12 November 1903. Suaminya sangat mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan anak pertama sekaligus terakhirnya pada tanggal 17 September 1904 pada usia 25 tahun. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini”.

Kartini, sang Inspirator yang fenomenal
Kartini merupakan pendobrak kekuatan wanita-wanita pribumi, generator atau mesin penggerak bagi kaummnya. Habis Gelap Tebitlah Terang (Armijn Pane); Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (Sulastin Sutrisno); Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 (Joost Costé); Pangil Aku Kartini Saja (Pramoedya Ananta Toer); Aku Mau…Femisinme dan Nasionalisme (Joost Costé) merupakan buku kumpulan surat-surat dan hasil pemikirannya yang sampai saat ini dibicarakan menjadi suatu indikasi keistimewaan pribadi dirinya.
Kartini merupakaan pelopor pejuang wanita yang mengispirasi para kaum Hawa untuk bejuang lebih baik untuk dirinya sendiri, agama, serta bangsanya. Kartini tidak hanya sebagai tokoh emansipasi wanita melainkan tokoh nasional, yaitu seseorang yang dengan ide dan gagasan inovasinya itu ia telah berjuang untuk kepentingan bangsa.
Andai saja Kartini masih hidup, mungkin ia akan berbangga hati sebab wanita kini tidak hanya menjadi pajangan atau pemanis suasana melainkan dapat diakui menjadi bagian dari pemegang kendali lajunya perkembangan bangsa.
Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya. (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Daftar Pustaka
www.tokohindonesia.com, Armin Pane, Sinopsis Buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka: 1978.
www.wikipedia.com, Nova Christina, Litbang Kompas.
www.kompas.com, Album Pahlawan Bangsa, Cet. Ke-18; Solichin Salim, Wajah-wajah Nasional, Penerbit PT. Mutiara Sumber Widya, Cet. Ke-1.
* Citra Lestari Oktaviana; Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Presiden (Boarding School) Jababeka Education Park, Jl. Ki Hajar Dewantara, Cikarang Baru Bekasi 17550, Telp. (021) 89109765/67 Fax. (021) 8903721. Disajikan dalam lomba penulisan Essay “Perjuangan R.A. Kartini”, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemda Kabupaten Bekasi, 18 April 2007.

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda