Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Tuesday, December 11, 2007

Spirit Perjuangan Kaum Hawa

“AKU MAU…”,
Moto Hidup Kartini Membawa Pelita Bagi Bangsa
Oleh Atikah Isna Fatya
*)
"Aku Mau ..." adalah moto Kartini। Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.
Berbicara tentang Kartini, sosoknya yang lembut namun tegas tak akan pernah lepas dari perbincangan tentang perjuangannya meraih persamaan pengakuan atas kaumnya. Tentang emansipasi wanita. Tentang feminisme. Tentang perempuan.
Perempuan sejak dahulu selalu dikagumi karena keindahannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Perempuan memiliki pesona tersendiri yang memancar dari dirinya sehingga membuatnya berbeda dari kaum lelaki. Tapi, satu fakta yang sangat menyayat hati, perempuan sejak dahulu juga sering dianggap memiliki derajat yang lebih rendah daripada seorang pria. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang mengingat masih banyaknya pelecehan dan pemikiran yang meremehkan atas diri seorang perempuan. Masih banyak masyarakat tradisional yang terpaku pada pemikiran bahwa tugas yang layak bagi seorang perempuan ialah menjadi seorang istri yang baik, patuh pada suami, mengurus rumah dan anak-anak. Memang benar hal-hal tersebut merupakan tugas utama perempuan, tetapi apa salahnya apabila para perempuan mendapatkan kepercayaan dan pengakuan atas haknya untuk dapat bersama-sama dengan kaum lelaki membangun bangsa? Apa ruginya jika memang kaum perempuan memiliki kemampuan lebih untuk berdiri sejajar dengan para pria dalam suatu hal? Bukankah suatu kesatuan akan menghasilkan suatu hasil yang akan lebih baik? Bukankan persamaan derajat antarmanusia, apapun jenis kelaminnya, akan dapat menghantarkan kita pada satu keharmonisan sejati yang selama ini selalu kita dambakan?
Ternyata masih ada seorang perempuan Indonesia, di antara banyak pahlawan wanita lainnya, yang dapat berpikiran maju dan berani mengungkapkan suara hatinya. Ia tidak putus asa berjuang untuk memupuskan kesenjangan yang terdapat antara kaum lelaki dan perempuan. Ia bertekad agar perempuan mendapatkan hak dan pengakuan seutuhnya akan eksistensi diri mereka yang semestinya memang patut mereka dapatkan. Hampir seluruh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang berpendidikan, tahu benar siapa perempuan yang sangat berjasa bagi kemajuan para perempuan Indonesia ini. Walaupun ia tidak berjuang dengan mengangkat senjata melawan penjajah yang merebut tanah Indonesia, saat itu ia sudah berpikiran kritis melalui tulisan-tulisan yang dibuatnya untuk teman-teman penanya, menceritakan bagaimana ia begitu menentang pengaruh adat yang tidak adil atas kaumnya. Siapakah seorang wanita berdarah Jawa yang begitu peduli akan nasib bangsanya ini? Siapakah seorsng wanita yang pada akhirnya berhasil memelopori para perempuan untuk berjuang mendapatkan hak mereka? Jawabannya hanya satu, tak lain dan tak bukan, ialah Raden Ajeng Kartini.
“Jadi apakah aku kelak, Ayahanda?” tanya seorang Kartini pada ayahnya suatu sore setelah pulang sekolah. Raden Aryo, ayahnya, tak menjawab. Ia hanya tertawa dan menjawil pipi mungil anaknya yang cerdas itu. Kartini yang tidak mendapatkan jawabannya merengek-rengek meminta jawaban. Tetapi, tetap saja tak dijawab pertanyaan Kartini. Raden Aryo tahu bahwa apapun jawaban yang dikatakannya, Kartini kecil pasti akan tetap menanyakannya kembali.
Seorang abang Kartini yang lewat dan kebetulan mendengar pertanyaan itu kemudian berkata, “Jadi apa gadis-gadis kelak? Ya, seorang Raden Ayu, tentu.”
Kartini yang mendapatkan jawabannya, bersorak sangat senang. Menjadi Raden Ayu, Raden Ayu, Raden Ayu. Dua kata itu membuatnya sangat bahagia. Tetapi ternyata sejalan dengan pertumbuhannya, Kartini pun memandang lingkungannya. Betapa banyak Raden Ayu di sekelilingnya. Diam-diam ia mempelajari apa itu sebenarnya Raden Ayu dan akhirnya ia menemukan bahwa Raden Ayu hanyalah sebuah status yang tak layak dibanggakan. Sejak itu, ia tidak mau lagi manggunakan gelar tersebut.
Ya, seorang Raden Ajeng Kartini yang terlahir di Jepara, 21 April 1879, sejak kecil memang sudah berusaha mencari jati dirinya. Ia dikaruniai kecerdasan dan terlahir di tengah keluarga bangsawan. Ibunya, Ngasirah, hanyalah salah satu selir dari ayahnya yang bernama R.M.A.A. Sosroningrat, bupati Jepara saat itu. Tetapi cinta kasih keluarganya telah menghasilkan seorang perempuan yang memiliki karakter kuat. Sampai usia 12 tahun, Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) yang sejajar dengan sekolah dasar pada zaman tersebut. Setelah itu, ia berhenti sekolah dan hanya tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Kartini bisa menguasai bahasa Belanda, oleh karena itu ia sering menulis surat untuk teman-teman penanya yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang sangat mendukungnya. Melalui buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik akan kemajuan berpikir perempuan Eropa saat itu. Maka, timbullah keinginannya untuk mengubah pandangan kaum pribumi agar dapat memajukan kaum perempuan pribumi juga, dimana kondisi sosial pada saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang sangat rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang yang diasuh, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya, tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan. Terkadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Akhirnya, Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan ia diberi kebebasan serta didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan di berbagai daerah lain. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh “Politik Etis”.
Sementara itu, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan. Buku tersebut kemudian diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang, sebuah buku yang sangat terkenal. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, masih banyak lagi surat-surat Kartini yang diterbitkan menjadi buku yang fenomenal.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa dan menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan peri kemanusiaan dan cinta tanah air.
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia juga mengungkapkan tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..."
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.
Kartini sangat mencintai sang ayah. Namun ternyata, cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah, dalam surat, juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi-terutama ke Eropa memang diungkap dalam surat-surat. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Dan ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Kira-kira setahun setelah pernikahannya itulah ia wafat, seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Tetapi, tidak berarti sepeninggalan jiwa dan raga seorang Kartini menyebabkan hilang jua semangat dan cita-cita yang telah ia perjuangkan. Faktanya, tulisan-tulisan yang dibuatnya menggugah masyarakat untuk mendirikan Sekolah Kartini dan makin giat ikut memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Meskipun Kartini hanya berjuang di daerah Jepara dan Rembang, tempat tinggalnya, tetapi cahaya baru dalam pemikiran yang dibawanya mampu menerangi pemikiran masyarakat Indonesia yang dahulu masih terselubungi oleh awan gelap. Api yang disulutnya mampu mengobarkan semangat para perempuan untuk mendukung dan meneruskan cita-cita mulia tersebut.
Tekad kuatnya itu akhirnya dapat berhasil juga. Akhirnya, sekarang kita dapat merasakan bersama-sama betapa nikmatnya persamaan derajat antara lelaki dan perempuan. Pada era ini, kita dapat menikmati betapa indahnya apabila terdapat keharmonisan hubungan antara pria dan wanita dalam segala hal. Pada masa ini, sudah banyak wanita yang mampu menunjukkan kemampuan dan eksistensi dirinya sama dan bahkan melebihi yang dimiliki oleh seorang lelaki. Wanita juga mampu menempuh pendidikan yang tinggi, berwawasan luas, bekerja keras, dan bersama-sama membangun bangsa kita agar menjadi lebih maju.
Emansipasi wanita memang telah digalakkan sejak Kartini bangkit melawan tali-tali adat yang mengekang perempuan. Perjuangannya begitu mulia sehingga kaum wanita dapat mengenyam pendidikan, berkarir, dan ,mencapai cita-cita mereka demi aktualisasi diri yang dibutuhkan oleh setiap individu. Tetapi, jangan sampai keberhasilan ini membuat kita lengah karena masih banyak penindasan, pelecehan, dan diskriminasi jender di negeri yang kita cintai ini. Untuk itu, kita masih harus bekerja dan berjuang lebih keras lagi agar dapat mewujudkan satu keharmonisan sejati yang kita dambakan sejak dahulu ada di antara bangsa ini. Berjuang demi kebahagiaan para perempuan yang tertindas. Demi kebahagiaan para wanita yang disiksa. Demi kebahagiaan kaum wanita yang diremehkan. Demi persamaan derajat pria dan wanita. Demi keharmonisan lelaki dan perempuan. Demi kebahagiaan semua kalangan bangsa. Demi kebahagiaan kita bersama. Demi sebuah senyum milik arwah seorang pejuang emansipasi wanita, Ibu Kita Kartini.
“Jadi apa gadis-gadis kelak? Ya, menjadi apa yang menjadi impian mereka dan mengejar cita-cita setinggi-tingginya, tentu saja.”
* )Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Presiden (Boarding School) Jababeka Education Park, Jl. Ki Hajar Dewantara, Cikarang Baru Bekasi 17550, Telp. (021) 89109765/67 Fax. (021) 8903721). Disajikan dalam lomba penulisan Essay “Perjuangan R.A. Kartini”, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemda Kabupaten Bekasi, 18 April 2007.

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda