Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Thursday, April 22, 2010

Bukan Enak nggak Enak...

oleh Endang Hariyanto Rosidi
Kalau kita sedang ngobrol dengan kawan-kawan atau dengan siapa saja "ngerumpi" gitu, kalau sudah bicara soal status sosial [baca: kelayakan hidup; standar materi] biasanya kita selalu bilang, "wah si X mah hidupnya enak, kerja di tempat yang bagus, posisi dan jabatannya juga tinggi, sudah pasti gajinya juga tinggi, wah enak ya".   Itu kan sangkaan dan pendapat kita, belum tentu sebenarnya seperti itu. Itu kan pandangan sekilas, kasat mata. Kita belum tahu bagaimana sesungguhnya. Tapi itulah kenyataannya, kita gampang menarik kesimpulan dan membuat jastifikasi dan konklusi. Yang sebetulnya jastifikasi dan konklusi tersebut harus ditinjau ulang dan diteliti kebenarannya.

Enak atau tidak enak sebetulnya soal rasa, perasaan dan hati. Bagaimana sebenarnya kita menyikapi setiap persoalan dengan bijak dan mendalam, dengan logika dan hati, dengan parameter yang tepat dan akurat. Sehingga keputusan kita untuk mengatakan bahwa itu adalah benar.

Dengan demikian setiap kita boleh saja [tidak haram atau makruh] untuk berpersepsi dan mempersepsikan sesuatu sesuai dengan standar dan parameter yang kita gunakan, kebenaran bisa diteliti kemudain. Jadi, tidak perlu takut untuk berpendapat, asalkan pendapat itu dasarnya jelas, tidak mengada-ada.

Mempersepsikan bahwa si X itu hidupnya enak, kan tidak salah, toh parameter yang digunakan jelas. Yaitu bahwa dia bekerja di tempat [baca: kantor] yang bagus, jabatan yang tinggi dan kehidupan sehari-hari yang sangat layak. Artinya dia memang benar-benar bekerja, dan memiliki jabatan yang bagus serta penghasilan yang bagus juga. Sehingga kalau si X memiliki rumah yang bagus dan kendaraan yang bagus juga memang layak dan sangat pantas. Kecuali jika si X itu hanya sebagai pekerja biasa, dengan penghasilan yang biasa juga, tetapi miliki fasilitas yang mewah, rumah mewah, kendaraan mewah dan yang lain-lainnya serba mewah, itu baru tidak enak. Apalagi kalau ternyata tidak bekerja, dan tidak punya peninggalan [baca: warisan] yang banyak tetapi hidupnya mewah, lebih sangat tidak enak jika dipersepsikan enak. Sebab kita telah mempolitisir dan mendramatisir serta merekayasa keadaan, lalu membohongi hati kita dengan mempersepsikan bahwa si X itu hidupnya enak.

Kembali ke soal enak tidak enak; yang enak itu jika daya upaya serta usaha yang kita lakukan dapat menghasilkan sesuatu yang sesuai. Kalau kita hanya jualan es cingcau di pinggir jalan ya terima saja hasilnya sesuai es cingcau itu, jangan berharap sesuai BMW sebab tidak akan sampai. Dan pengeluaran serta gaya hiduppun [baca:life style] harus disesuaikan. Kalau itu disyukuri hidup kita akan nikmat sekali.

Sebaliknya jika kita tidak bisa menerima kenyataan, bahwa kita hanya seorang pekerja biasa dengan penghasilan yang biasa-biasa saja tetapi menginginkan penghidupan yang lebih, tetapi tidak bekerja keras. Itu namanya tidak bersyukur. Ingat jika kita kufur nikmat, kesulitan dan kepedihan akan datang. Naudzu billah min dzalik.

Semoga dengan kondisi kita seperti ini kita masih tetap bersyukur kepada Tuhan dan senantiasa bersyukur hingga suatu saat, jika tiba masanya Tuhan akan menambahkan nikmat-Nya. Amin
Wa Allahu a'lam bi al-Shawab.

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda