
Lintasan Sejarah Anak Bangsa
Sebuah Pengantar*
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah dan masa lalunya. Hari ini tidak akan pernah ada jika tak ada hari kemarin, pun demikian hari depan tidak akan pernah ada tanpa hari ini. Hari kemarin adalah masa lalu yang harus dijadikan cermin, hari ini adalah sebuah kenyataan, fakta dan realita sejarah, hari esok adalah harapan. Begitu seterusnya.
Hidup ini bak roda yang pada gilirannya akan berputar. Hari lalu boleh jadi kita berjaya, hari ini mungkin masih tetap berjaya tapi esok atau lusa boleh jadi kejayaan itu akan berubah menjadi kesedihan. Semua itu, bisa saja terjadi diluar kemampuan logika kita. Yang pasti segalanya harus dipersiapkan sedemikian rupa agar romantika kehidupan ini berjalan sesuai dengan harapan.
Tak tahu apa yang sedang kita rasakan saat ini. Entah kebahagiaan atau kesedihan! Jika kesedihan yang sedang kita alami, sesungguhnya merupakan titik tolak untuk meraih kebahagiaan. Pun demikian, kebahagiaan (kesuksesan) yang kita raih sesungguhnya merupakan buah dari kerja keras yang selama ini kita lakukan dan kegagalan masa lalu yang pernah kita alami. Bahkan hidup yang sedang kita jalani saat ini adalah sebuah gerbang menuju kematian, kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju ”peristirahatan” panjang nan abadi.
Seringkali kita terlena dengan kesuksesan dan indahnya gemerlap kehidupan duniawi hingga kita melupakan segalanya. Tatkala kegagalan dan duka cita menimpa, kita meratap sedih, berkeluh kesah, menyalahkan diri sendiri, orang lain atau bahkan Tuhan.
Anak-anakku tercinta….
Kalian terlahir sebagai generasi terdidik dari seorang ”IBU” yang bernama SMA Presiden, dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kedisiplinan. Kalian ditempa dan dididik untuk mandiri dan menjadi diri kalian sendiri, kalian diarahkan untuk learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together. Kami selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk kalian, pikiran dan segala daya dicurahkan untuk kalian. Percayalah, kami tidak mengharapkan balasan apapun dari kalian, kami hanya ingin melihat kalian sukses, menjadi orang baik, bijak dan bertanggungjawab.
Anak-anakku terkasih….
Sebagai anak pertama kalian harus menjadi contoh “uswatun hasanah” bagi adik-adik kalian, berikanlah karya terbaik kalian untuk almamater tercinta dan keluarga besar SMA Presiden. Tetaplah menjaga nama baiknya, harumkanlah dengan prestasi dan sikap terbaik kalian, seperti yang seringkali disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, “kalaupun belum mampu mengharumkan nama SMA Presiden, sekurang-kurangnya jangan pernah mencederainya”.
Hari ini, kalian mencoba untuk merajut pengalaman, cerita dan masa lalu untuk dilukiskan menjadi sebuah memori, catatan sejarah yang akan terus dikenang oleh seluruh keluarga besar SMA Presiden (Boarding School). Buku tahunan ini menjadi sebuah ”film dokumenter” yang memuat setiap jengkal langkah kalian di SMA Presiden, saksi sejarah yang mencatat pernak-pernik peristiwa selama 3 tahun kalian berada dalam kehangatan, kemesraan, dan dekapan cinta kasih ”rumah kedua” kebanggaan kalian.
Kami yakin, pada suatu masa kalian akan merasakan kerinduan yang mendalam kepada ”rumah kedua” kalian ini, kalian pasti akan mengenang saat-saat bahagia, suka dan duka, dan kalian akan berupaya untuk flashback, kalian pasti akan tersenyum dan tertawa sendiri atau bahkan sedih sendiri. Inilah saat yang paling tepat bagi kalian untuk membuka kembali “diary biru” yang kalian sebut dengan buku tahunan.
Pesan terakhir kami, teruslah belajar dan belajar, asahlah semua potensi baik kalian, tetap disiplin dan hargai kebenaran di mana pun kalian berada, doa kami menyertai kalian.
Bravo...angkatan 1....
* oleh Endang H. Rosyidi, Pengantar Buku Angkatan I SMA Presiden (Boarding School) D’Mous Cikarang, 4 April 2007
Sebuah Pengantar*
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah dan masa lalunya. Hari ini tidak akan pernah ada jika tak ada hari kemarin, pun demikian hari depan tidak akan pernah ada tanpa hari ini. Hari kemarin adalah masa lalu yang harus dijadikan cermin, hari ini adalah sebuah kenyataan, fakta dan realita sejarah, hari esok adalah harapan. Begitu seterusnya.
Hidup ini bak roda yang pada gilirannya akan berputar. Hari lalu boleh jadi kita berjaya, hari ini mungkin masih tetap berjaya tapi esok atau lusa boleh jadi kejayaan itu akan berubah menjadi kesedihan. Semua itu, bisa saja terjadi diluar kemampuan logika kita. Yang pasti segalanya harus dipersiapkan sedemikian rupa agar romantika kehidupan ini berjalan sesuai dengan harapan.
Tak tahu apa yang sedang kita rasakan saat ini. Entah kebahagiaan atau kesedihan! Jika kesedihan yang sedang kita alami, sesungguhnya merupakan titik tolak untuk meraih kebahagiaan. Pun demikian, kebahagiaan (kesuksesan) yang kita raih sesungguhnya merupakan buah dari kerja keras yang selama ini kita lakukan dan kegagalan masa lalu yang pernah kita alami. Bahkan hidup yang sedang kita jalani saat ini adalah sebuah gerbang menuju kematian, kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara menuju ”peristirahatan” panjang nan abadi.
Seringkali kita terlena dengan kesuksesan dan indahnya gemerlap kehidupan duniawi hingga kita melupakan segalanya. Tatkala kegagalan dan duka cita menimpa, kita meratap sedih, berkeluh kesah, menyalahkan diri sendiri, orang lain atau bahkan Tuhan.
Anak-anakku tercinta….
Kalian terlahir sebagai generasi terdidik dari seorang ”IBU” yang bernama SMA Presiden, dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kedisiplinan. Kalian ditempa dan dididik untuk mandiri dan menjadi diri kalian sendiri, kalian diarahkan untuk learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together. Kami selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk kalian, pikiran dan segala daya dicurahkan untuk kalian. Percayalah, kami tidak mengharapkan balasan apapun dari kalian, kami hanya ingin melihat kalian sukses, menjadi orang baik, bijak dan bertanggungjawab.
Anak-anakku terkasih….
Sebagai anak pertama kalian harus menjadi contoh “uswatun hasanah” bagi adik-adik kalian, berikanlah karya terbaik kalian untuk almamater tercinta dan keluarga besar SMA Presiden. Tetaplah menjaga nama baiknya, harumkanlah dengan prestasi dan sikap terbaik kalian, seperti yang seringkali disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, “kalaupun belum mampu mengharumkan nama SMA Presiden, sekurang-kurangnya jangan pernah mencederainya”.
Hari ini, kalian mencoba untuk merajut pengalaman, cerita dan masa lalu untuk dilukiskan menjadi sebuah memori, catatan sejarah yang akan terus dikenang oleh seluruh keluarga besar SMA Presiden (Boarding School). Buku tahunan ini menjadi sebuah ”film dokumenter” yang memuat setiap jengkal langkah kalian di SMA Presiden, saksi sejarah yang mencatat pernak-pernik peristiwa selama 3 tahun kalian berada dalam kehangatan, kemesraan, dan dekapan cinta kasih ”rumah kedua” kebanggaan kalian.
Kami yakin, pada suatu masa kalian akan merasakan kerinduan yang mendalam kepada ”rumah kedua” kalian ini, kalian pasti akan mengenang saat-saat bahagia, suka dan duka, dan kalian akan berupaya untuk flashback, kalian pasti akan tersenyum dan tertawa sendiri atau bahkan sedih sendiri. Inilah saat yang paling tepat bagi kalian untuk membuka kembali “diary biru” yang kalian sebut dengan buku tahunan.
Pesan terakhir kami, teruslah belajar dan belajar, asahlah semua potensi baik kalian, tetap disiplin dan hargai kebenaran di mana pun kalian berada, doa kami menyertai kalian.
Bravo...angkatan 1....
* oleh Endang H. Rosyidi, Pengantar Buku Angkatan I SMA Presiden (Boarding School) D’Mous Cikarang, 4 April 2007
selamat atas dibuatnya blog, pokoknya diposting terus yok....
ReplyDeletetq