Endang Hariyanto Rosidi
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertutur kata baik atau diam.”
Begitulah Rasulullah mengajarkan kita. Pada kenyataannya, ajaran itu sangat sulit untuk dilaksanakan dalam kehidupan. Banyak di antara kita yang belum bisa menerapkannya, hal ini bukan karena tidak mengerti dan memahami maksud ajaran itu, tapi lebih disebabkan karena belum adanya kesadaran yang timbul. Selama ini tampaknya ajaran-ajaran semisal itu hanya dijadikan sebagai slogan, atau jargon belaka. Sehingga tidak sedikit orang yang mengerti dan memahaminya, tapi tutur katanya sangat jauh menyimpang dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Terbukti dengan banyaknya kejadian dan peristiwa yang diakibatkan karena tidak dapat mengendalikan lisan dengan baik sehingga tutur katanya menjadi sangat menyakitkan. Setiap kali ucapan yang keluar dari mulutnya menjadi sumber masalah dan malapetka. Ditambah lagi keengganan untuk menghormati dan menghargai tetangga. Timbulnya tawuran antar kampung misalnya, hal ini sangat boleh jadi diakibatkan karena misunderstanding dan tidak adanya komunikasi yang baik antar anggota masyarakat, yang kemudian hilangnya kepercayaan, lalu timbul statemen-statemen dari orang yang memang tidak jujur dalam memberikan penilaian, sehingga memperkeruh masalah. Lalu pada saatnya kondisi itu menjadi deadlock dan pecahlah pertikaian.
Haruskah pertikaian semacam itu terjadi? Padahal bisa diselesaikan lewat komunikasi yang baik? Sungguh ironi kondisi bangsa ini. Tercabik-cabik karena hilangnya komunikasi yang baik, kejujuran dan kepercayaan. Padahal kita tahu bahwa “honesty is the best policy”. Contoh lain, setelah terjadinya peristiwa biadab “Penyerangan Jama’ah Ahmadiyah”, banyak komentar dan statemen anak bangsa yang sesungguhnya mereka sendiri tidak tahu secara pasti, siapa pelaku keji di balik itu? Atau bahkan tidak fair dalam penilaian, sehingga cenderung menyalahkan dan menuyudutkan orang lain. Ini berarti hilangnya budi bahasa, yang sesungguhnya diperintahkan oleh rasul Allah, yang dalam bahasa agama dinamakan “falyaqul khairun”. Alangkah indahnya jika masalah ini kita serahkan kepada ahlinya untuk diselidiki dan diselesaikan secara adil dan bijaksana? Fas’alû ahla alzdzdikri in kuntum lâ ta’lamûn”. Sungguh nasib bangsa ini sangat menyedihkan.
Oleh karenanya, tidak ada kata terlambat untuk kembali merenungi ajaran rasul yang dikutip di atas. Agar kita bisa menata kehidupan bangsa ini dengan penuh kesantunan, kejujuran dan kepercayaan sehingga tercipta negara idaman baldatun thaibatun wa rabbun ghafûr.
Ajaran rasul di atas tidak sesederhana sebagimana textnya, sebab ketika diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sungguh amat berat, karena membutuhkan kesadaran dan kesiapan mental yang kuat. Sebagai ummatnya kita diperintahkan untuk selalu bertutur kata baik, lembut dan sopan. Ketika memberikan komentar atau pandangan hendaklah disampaikan dengan cara-cara yang santun dan bijaksana – tentunya harus mengerti terlebih dahulu. Kalau pun hal itu belum bisa dilakukan, maka rasul pun memberikan alternatif lain, yakni “diam”. Apalah arti sebuah ucapan jika kita sendiri tidak memahaminya. Diam tidak berarti pasrah, tapi sebagai sebuah pernyataan bahwa kita tidak boleh berbicara sesuatu yang kita tidak tahu.
Masih dalam konteks ajaran rasul di atas, kita pun diperintahkan untuk menghargai tamu dan tetangga kita, siapa pun dia –dengan tidak membedakan suku bangsa, agama, warna kulit serta strata sosial.
Datangnya Islam yang dibawa rasul sebagai rahmat bagi seluruh isi jagat raya, “wamâ arsalnâka illâ rahmatan lil’âlamîn”. Oleh karenanya sangatlah bertentangan jika sebagai ummatnya malah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai “rahmat” itu sendiri.
Dengan mengamalkan ajaran-ajaran rasul di atas kita akan termasuk golongan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Semoga. ***
No comments:
Post a Comment
terima kasih untuk saran dan komentar anda