oleh
Endang Hariyanto Rosidi
Salah satu implikasi iman kepada Allah Swt adalah lahirnya sikap takut, patuh dan taat. Takut untuk melakukan sesuatu yang menjadi larangan-Nya, patuh dan taat untuk melaksanakan perintah-Nya. Inilah sikap yang selalu menghadirkan Tuhan dalam diri atau jiwa kita yang dalam bahasa agama dikenal dengan sebutan takwa.
Sejatinya orang yang bertakwa kepada Allah Swt dengan sepenuh hati, tidak lagi merasa dimata-matai oleh Allah, melainkan dia memang merasa butuh kepada-Nya di mana pun dia berada. Oleh karenanya rasul Muhammad Saw menegaskan dalam haditsnya: "Ittaqillaha haytsuma kunta", hadits ini merupakan perintah sekaligus penegasan, sebab manusia sering kali lupa dan tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Implikasi dari takwa inilah yang kemudian termanifestasi dalam setiap, ucap, gerak dan langkah seseorang. Inilah yang kemudian disebut dengan akhlak. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk yang diindonesiakan menjadi perilaku atau budi pekerti.
Seperti yang ditulis Cak Nur dalam salah satu bukunya bahwa perjuangan Rasul Muhammad Saw dalam berdakwah menyebarkan Islam selama kurang lebih 32 tahun di Kota Makkah dan Madinah dapat disederhanakan menjadi perjuangan menyempurnakan akhlak yang mulia, hal tersebut bisa dilihat dari sabdanya "Innama bu'itstu li utammi makarima al-akhlak". Sungguh luar biasa pentingnya peran akhlak dalam kehidupan umat manusia. Bahkan dalam salah satu hadits rasul Muhammad Saw pernah menjelaskan bahwa yang menyebabkab seseorang masuk surga adalah takwa dan budi pekerti yang baik 'husnul khuluk'.
Akhlak itu meliputi seluruh aspek dalam kehidupan kita, mulai dari tingkah laku, ucapan, sikap kepada Tuhan, diri sendiri, sesama/ orang tua dan alam semesta raya.
Akhlak terhadap diri sendiri misalnya, bagaimana kita harus memperlakukan diri kita secara adil, kalau memang waktunya untuk istirahat ya istirahatlah, kalau memang waktunya untuk makan ya bersegeralah. Bahkan ketika kita berpuasa disunnahkan untuk menyegarakan berbuka, jangan mentang-mentang masih kuat ditahan sampai datang waktu Isya, itu berarti kita telah zhalim terhadap diri kita sendiri. Oleh karenanya mulai saat ini mari kita perbaiki diri kita masing-masing, sehingga menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab. Semoga.
Akhlak itu meliputi seluruh aspek dalam kehidupan kita, mulai dari tingkah laku, ucapan, sikap kepada Tuhan, diri sendiri, sesama/ orang tua dan alam semesta raya.
Akhlak terhadap diri sendiri misalnya, bagaimana kita harus memperlakukan diri kita secara adil, kalau memang waktunya untuk istirahat ya istirahatlah, kalau memang waktunya untuk makan ya bersegeralah. Bahkan ketika kita berpuasa disunnahkan untuk menyegarakan berbuka, jangan mentang-mentang masih kuat ditahan sampai datang waktu Isya, itu berarti kita telah zhalim terhadap diri kita sendiri. Oleh karenanya mulai saat ini mari kita perbaiki diri kita masing-masing, sehingga menjadi pribadi-pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab. Semoga.
No comments:
Post a Comment
terima kasih untuk saran dan komentar anda