Salam
Semoga keselamatan, kesehatan dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua.
Selamat datang dan salam silaturrahim, semoga blog ini bermanfaat. Amin

Friday, July 25, 2008

dia orang hebat

Beberapa saat lalu ketika marak-marak peringatan Hari Bumi, pada salah satu kesempatan event aku bertemu dengan orang hebat, berpenampilan biasa, low profile, dan dia adalah Eka Budianta.
Makasih pak Eka, mungkin sudah kehendak Tuhan, bahwa saya harus bertemu dengan orang sekaliber Anda. Sebagai bentuk apresiasi ku cari tahu informasi tentang dia dan kutemukan sepotong puisi ini.

Teringat pada Daun
Bagaimana aku bisa lupa padamu, daun
Setelah kauajar selama bertahun-tahunMenghadapi berbagai musim dan kekecewaan
Di laut, sekarang aku jadi biduk
Tak berdaya, kosong dan sakit-sakitan
Jauh dari hutan, jauh dari kalian
Tapi lupakah aku padamu begitu saja?
Nasib membuatku jadi sepotong gabus
Kapal tanpa kompas, perahu tanpa layar
Tapi jangan bilang aku lupakan kalian
Hutang rindu, hutang kasih sayang
Tak tertebus dengan sejuta bait gurindam
Hidup bukan sekedar iuran perkataan
Sejak dulu telah kauajar aku membuktikan
Sekarang, di tengah lautan kata-kata
Aku memanggilimu, daun-daun
Yang telah menghijaukan perasaan
Dengan usapan dan tamparan di masa kecil
Ombak kini menggantikanmuDengan ayunan dan hempasan
Mendekatkan aku ke akhir perjalanan

Tembang Biasa
Pemenang Nobel perdamaian
Bukanlah ayahku
Meskipun setetes spermanya
Bersama ovum bintang film itu
Tumbuh menjadi akuSeperti engkau
Di dunia ini aku sendiriNormal dan terasing
Akulah merekaPenanam modal di planit Yupiter
Pendatang baru di galaksi tanpa nama
Aku membuat semilyar komputer
Reaktor-reaktor atom dan mesin sinar laser
Untuk membunuh orang-orang Kamboja
Membantai sisa-sisa Palestina
Menghabisi Indian Amerika, Yahudi di Eropa
Aku perintis teknologi metafisika
Sekaligus pelacur, tukang sepatuAlgojo, muazin dan perawat yang rajin
Aku lari meninggalkan firdaus
Menyumpahi Tuhan sepuas-puasku
Dan menyembah-nyembahnya lagi
Aku membangun piramida dan tembok Cina
Dan tidak menangis
Ketika Hiroshima berantakan
Tidak marah melihat rakyat dibantai di Gullac

No comments:

Post a Comment

terima kasih untuk saran dan komentar anda