Belum hilang di ingatan kita, tanggal 11 September 2001, dunia dikejutkan dengan salah satu kejadian yang paling mengerikan pada abad ini, teror terhadap negara adidaya, Amerika Serikat. Kehancuran yang tragis, ketidakberdayaan, ketakutan, teror kepercayaan, kehilangan yang mengenaskan adalah dampak luar biasa dari serangan teroris ini. Hal mengerikan tersebut memiliki efek yang sangat mendalam bagi seluruh rakyat lokal bahkan internasional. Tetapi, jauh lebih daripada itu, adakah yang menyadari bahwa bangsa kita sendiri sedang mengalami teror yang bahkan lebih dahsyat daripada peristiwa terorisme yang sangat memprihatinkan tersebut? Bangsa kita mengalami krisis yang tidak kalah menakutkan dibandingkan teror yang melanda dunia, yang menimbulkan krisis kepercayaan, nasib bangsa yang kian mengenaskan, menyebabkan canda tawa tergantikan oleh rintihan tangis, menghasilkan para korban yang tidak berdaya.
Perhatikanlah, nasib bangsa kita sedang dipertaruhkan! Krisis yang mengancam kita bukan hanya sekedar kerusakan materi yang dapat dibangun kembali. Bangsa ini sedang dilanda krisis nasionalisme! Ketidakpedulian pada negara sendiri, merendahkan derajat dan martabat bangsa, memandang sebelah mata pada nasib bangsa, dan tidak mengenal kata cinta pada tanah air menjadi fenomena nyata di negeri tercinta. Kehancuran bangsa dari segi mental dan ideologi yang perlahan-lahan membawa bencana dan krisis pada perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang berkepanjangan adalah sedikit dari berbagai konsekuensi yang harus dibayar mahal oleh rakyat Indonesia di hari depan, menyisakan warisan yang dapat mempermalukan anak-cucu bangsa di hadapan bangsa lain. Hai Pemuda Indonesia, sadarkah kalian bahwa nasib Indonesia berada di atas pundak generasi muda seperti kita? Tahukah kalian bahwa masa depan negeri ini berada pada kita?
Bangsa Indonesia telah kehilangan pamornya di mata dunia. Siapa yang patut disalahkan? Apakah pemerintah yang kurang berusaha, masyarakat yang kurang peka, generasi sebelumnya yang mewariskan penderitaan, atau generasi muda yang tidak berbakti? Tidak ada, tidak satu pun yang patut disalahkan. Kita harus belajar berbesar hati menerima kekalahan dan konsekuensi atas perbuatan kita di masa silam. Tetapi, siapakah yang harus membangun kembali bangsa yang sedang kelaparan ini? Jawabannya hanya satu, para generasi muda! Kunci utama pembangunan bangsa adalah kepemimpinan pemuda yang visioner. Pemuda Indonesia harus bersatu padu membangun negeri ini. Kriteria pemuda harapan bangsa yang Indonesia butuhkan adalah pemuda yang memiliki visi dan berdedikasi tinggi pada negara dan bangsa. Kita sebagai tunas bangsa harus berusaha untuk merealisasikan impian rakyat dalam wujud nyata demi keharmonisan dan kejayaan negara dengan segenap kekuatan diri yang kita miliki. Kita dapat menggunakan tangan, materi, tenaga, dan pikiran untuk membantu menyokong tetap tegaknya bangsa Indonesia. Namun, bagaimana kita dapat rela berkorban untuk kepentingan negara apabila hati kita tidak cinta pada ibu pertiwi ini? Bagaimana para kita dapat membangun negeri ini dengan tulus sementara rasa nasionalisme kian pupus? Bisakah kita sebagai generasi muda melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dengan baik di saat tumbuhnya rasa apatis terhadap negeri? Kenyataan yang menyakitkan ini tidak dapat kita sembunyikan seolah-olah tidak ada yang sedang terjadi di depan mata. Sebaliknya, kita harus menghadapinya dengan hati terbuka dan menantang arus apatisme demi mewujudkan satu tujuan bangsa; kepemimpinan pemuda yang mampu membangun kembali bangsa dan negara Indonesia. Semangat nasionalisme adalah modal utama kita. Jadikan rasa cinta tanah air laksana jembatan menuju masa depan yang begitu berbeda, begitu cerah, begitu indah. “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” (“Jangan tanya apa yang dapat negara berikan padamu, tetapi tanyakan apa yang dapat kamu berikan pada negara.”)
Kutipan dari John Franklin Kennedy ini bagaikan harta yang sangat berharga bagi seluruh bangsa di dunia. Bangsa Indonesia tidak perlu malu untuk mengakui kebenaran perkataannya dan menjadikannya pedoman bagi keberlangsungan hidup dan berkembangnya negara kita. Fakta bahwa bangsa ini sedang kehilangan jati dirinya membuat generasi muda juga terpengaruh. Kita tidak dapat memungkiri bahwa memakai produk luar, berbahasa asing, rasa bangga menjadi bangsa asing adalah kebanggaan tersendiri yang membuat kita diselubungi penyesalan atas kelahiran di bumi Indonesia. Masih banyak pemuda yang tidak sadar bahwa sikap anti-nasionalisme ini akan membawa dampak yang jauh lebih buruk dan berakibat fatal bagi kehidupan bangsa kita. Perlahan namun pasti, pemuda-pemudi mulai beralih pada pengaruh asing dan beranjak dari akar-akar tradisi dan budaya Indonesia yang merupakan permata paling berharga bagi bangsa. Hari demi hari, kian sering terdengar keluh kesah dan keengganan untuk memajukan negara dari generasi muda. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penerus bangsa yang tidak peduli pada pemerintahan dan masa depan negara, mengakibatkan ketidakpastian dan keraguan pada kepemimpinan di masa yang akan datang. Jangan sampai situasi yang memprihatinkan ini terus berkembang di kalangan pemuda dan menghantarkan nasib bangsa Indonesia di ambang pintu kehancuran!
Kenyataan miris ini bukan kesalahan kita sebagai individu yang begitu mendambakan negara yang tenang, aman, damai, maju, dan tenteram. Tetapi yakinlah, tidak akan pernah tercipta perubahan yang signifikan apabila bangsa ini tetap berkubang dalam penyesalan. Percayalah, tidak akan terwujud cita-cita yang diinginkan jika kita tidak memulai suatu langkah pasti. Satu-satunya yang akan tetap bertahan untuk tinggal hanyalah kesengsaraan, kemelaratan, kemiskinan, kelaparan, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kelak akan menimbulkan krisis kepercayaan berkepanjangan, kian memperparah nasib anak bangsa yang telah tertatih-tatih memperbaiki kehidupan. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah tetap meneruskan perjuangan para pendahulu dan berusaha memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Langkah termudah mewujudkannya adalah memulai disertai niat yang kuat, penuh ketulusan dan rasa bakti pada negara. Jangan pernah meminta pamrih atas apa yang telah kita lakukan karena kita tidak akan pernah merasa puas. Tetapi, tetaplah setia dan berkorban untuk negara tercinta. Hasil jerih payah kita tidak akan lekang dimakan waktu yang berlalu cepat namun akan tetap terkenang sepanjang zaman. Apabila kepemimpinan kita disertai rasa cinta yang tulus ikhlas untuk membangun bangsa dan negara, niscaya kebahagiaan dan kejayaan akan kembali pada Indonesia. Sekali lagi, nasionalisme memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini sehingga sepatutnyalah para pemuda Indonesia harus sudah berpikir adil dan bijaksana, membuka pandangan dan pikiran bahwa kita adalah tonggak bangsa ini untuk tetap tegak dan jiwa nasionalisme adalah bahan paling mendasar yang membentuk kita untuk tetap kuat dan konsekuen menjalankan tugas.
“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Seperti ungkapan yang dikemukakan oleh Pramoedya Ananta Toer tersebut, tidaklah ideal apabila konsep-konsep adil dan niat yang kuat untuk membangun bangsa tersebut hanya berada di dalam pikiran. Pemikiran-pemikiran dan landasan yang benar tersebut harus juga kita lakukan dan wujudkan, melaksanakan tugas sebagai penerus bangsa yang baik dan berjiwakan nasionalisme yang teguh demi menuju satu bangsa yang utuh dengan kepemimpinan yang dapat diandalkan serta penuh loyalitas pada negara.
Marilah kita menilik kembali masa-masa pendudukan di Indonesia, saat-saat di mana ketidakadilan dan keserakahan bangsa kulit putih terjadi, terharu melihat perlawanan para pribumi tertindas walaupun mereka tahu tidak akan menang, mempertahankan harga diri sebagai bangsa Indonesia, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Betapa mulianya pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk menggapai cita-cita bangsa, yaitu Indonesia yang lepas dari segala keterikatan. Tanpa disadari, peristiwa penjajahan atas bangsa ini terjadi kembali pada nuansa kepemimpinan pemuda masa kini yang cenderung jauh lebih terpelajar. Bukan sekedar penjajahan dan perampasan hak atas tanah serta kekuasaan namun penjajahan dan penguasaan dari segi mental, ideologi, sosial, dan budaya yang kian lama kian menguasai benak generasi muda bangsa kita. Belajar dari sejarah, para pemudalah yang dahulu mendobrak segala ketidakadilan, mengatasi kebodohan, bertarung memperjuangkan nasib, dan menghasilkan Indonesia yang merdeka dan bebas seutuhnya Lihatlah hasil perjuangan gigih para pemuda Indonesia yang dulu berjuang tanpa pamrih untuk membela harkat dan martabat bangsa. Soekarno, Mohammad Hatta, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Pattimura, dan Pangeran Diponegoro adalah beberapa contoh nyata para tokoh dari kalangan pemuda yang berjuang mengharumkan nama bangsa dengan menentang ketidakadilan di bumi manusia ini . Lantas, bagaimana kelanjutan nasib bangsa Indonesia sekarang di saat para pemuda telah teracuni sesuatu yang dinamakan apatisme? Bagaimana masa depan Indonesia apabila para pemuda bangsa tidak dapat mendobrak kembali kegemilangan negara? Bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan ketidakmampuan membangun kembali bangsa ini pada anak-cucu kita? Hai Pemuda Indonesia, jadikan hal tersebut sebagai cambuk yang perih dan tamparan yang menyakitkan bagi kita! Hai Penerus bangsa, jadikan kesulitan bangsa ini sebagai tantangan dan ubahlah menjadi kegemilangan!
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, krisis nasionalisme yang semakin merebak dan mengakar kuat di hati pemuda-pemudi bangsa harus secepatnya kita atasi. Kita harus bersama-sama saling membantu untuk terlepas dari lubang kesalahan yang fatal ini dan menumbuhkan kembali semangat kebangsaan yang tinggi dan tak padam dibawa arus globalisasi. Marilah kita pergi berperang melawan diri, menumpaskan keraguan dan ego diri yang tinggi dengan berselempangkan niat yang kuat, membawa api semangat yang terus menyala, didukung rasa nasionalisme yang menjadi salah satu struktur penyokong paling penting, dan bersenjatakan kepemimpinan yang baik, bertanggungjawab, dan penuh profesionalisme untuk meraih cita-cita yang kita idamkan bersama, yaitu kebangkitan Indonesia sepenuhnya.
Setelah berusaha sekuat tenaga dan berjuang sepenuh hati, barulah kita dapat menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan Yang Maha Esa। Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita melakukannya dengan penuh kerja keras dan selalu meminta pertolongan Tuhan. Sekali lagi, percayalah bahwa kepemimpinan pemuda Indonesia yang baik, penuh tanggung jawab, dan loyalitas tinggi terhadap negara akan dapat mengangkat kembali harkat dan martabat bangsa. Kesemuanya akan terlaksana dengan adanya rasa cinta dan memiliki tanah air Indonesia. Kinilah saat yang tepat untuk memulai suatu perubahan yang signifikan. Teman-teman sebangsa dan setanah air, marilah kita tumbuhkan jiwa nasionalisme sejak dini demi menumpaskan keegoisan diri dan rasa apatis terhadap bangsa! Hai Tunas bangsa, Indonesia menunggu baktimu! Pemuda Indonesia, buktikan bahwa kita bisa membawa negara tercinta ini ke arah yang lebih baik! Hai Penerus bangsa, mari kita wujudkan bersama-sama kepemimpinan yang baik dan sinergis untuk membentuk kembali kekuatan bangsa! Para Generasi muda, kita pasti bisa mengukir sejarah penuh gemilang dan mengabadikan harumnya nama bangsa ke seantero dunia seperti yang telah dilakukan para pahlawan bangsa. Bersama kita pasti bisa! Hidup negaraku tercinta, maju terus pemuda Indonesia!
*Disajikan dalam Lomba Karya Tulis Pemuda Tingkat Nasional Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga & Forum Lingkar Pena

No comments:
Post a Comment
terima kasih untuk saran dan komentar anda